Tentang Sebuah Perbedaan

Tentang Sebuah Perbedaan

Oleh Nidhomatum MR

Cerita tentang penciptaan, perbedaan dan ketidakharmonisan dikisahkan Kahlil Gibran bertajuk “Suara Sang Penyair” dalam bukunya “Raja yang Terpenjara”. Katanya “Engkau Saudaraku, dan kita berdua adalah putra roh suci universal yang esa. Engkau adalah persamaanku, yang dibentuk dari tanah liat yang sama. Engkaulah kawananku di jalan kehidupan, penolongku dalam memahami kenyataan yang tersembunyi kabur. Engkau manusia, maka aku mencintaimu, Saudaraku”.

Tulisan di atas, tak lain adalah secuplik paragraf hasil untaian penyair yang lahir di Beshari, Lebanon pada 1883 itu. “Pendek dan Mendalam”. Di dalamnya mengandung cinta, cinta sesama dan menjelaskan kesamaan dalam kehidupan, karena semua makhluk Tuhan. Pada paragraf selanjutnya ditulis; “Ambilah dariku apa yang kau mau, rebutlah apa yang menjadi bagianmu, kekayaan yang kumiliki karena keserakahanku. Sepantasnya kau menerimanya, kalau itu memuaskanmu”.

Bait yang berisi keridhaan, kerelaan untuk sesama, karena setiap makhluk adalah saudara. Sehingga, pantas untuk dicinta. Setelah membaca bait-bait itu, saya berpikir, konteks penciptaan syair di atas tak terlepas dari realitas. Realitas tentang, ketidakharmonisan dan ketidakpuasan hubungan antar sesama.

Memang, kenyataannya dipungkiri atau tidak, selama ini di belahan dunia mana pun, persamaan dan perbedaan direspon berbeda. Ada sekelompok orang menganggapnya wajar, dan sekelompok yang lain cenderung menganggap perbedaan adalah “kesalahan”. Bagi kelompok kedua, tak jarang anggapan salah berujung pada penyesatan, pengolok-olokan, dan bahkan pengkafiran dengan alasan agama.

Mereka sepertinya buta akan kesamaan dan menganggap perbedaan adalah racun atas nama Tuhan. Padahal, sebagaimana syair Kahlil Gibran di atas, perbedaan akan runtuh pada esensi kata: “Engkau adalah persamaanku, yang dibentuk dari tanah liat yang sama”. Salah satu contoh yang kerap kali ditemui tentang respon “ketidakterimaan akan perbedaan” ada pada tulisan-tulisan yang menjamur di media-media yang mengatasnamakan “kebenaran” agama. Tulisan-tulisan tersebut tak segan mengumbar kata “sesat”, kata “laknat” dan kata-kata lainnya yang tak pantas diucap untuk makhluk sesama yang dicipta dari tanah liat.

Ironisnya, kata-kata itu terucap dan tertulis atas nama Agama, yang berarti menganggap mereka adalah perwakilan “kebenaran” atas nama Tuhan. Mereka menganggap, kebenaran adalah “benar” dalam pemahaman sendiri, yang berarti “benar” dalam pemahaman orang lain adalah “salah”.

Menurut saya -sekadar beranggapan-, sebenarnya tak ada salahnya mengganggap apa yang kita pahami itu benar, benar untuk kita sendiri. Karena, bukan berarti benar dalam pemahaman kita, benar pula bagi pemahaman yang lain. Kita tak berhak menyalahkan orang lain berbekal pemahaman kita, karena “membenarkan” dan “menyalahkan” merupakan otoritas Tuhan. Layakkah kita mengambil alih otoritas Tuhan? Mungkin tak apa jika memang mau “Membunuh Tuhan, dan berupaya menjadi “tuhan” baru.

Terakhir, semoga tetap diingat: “Kita adalah Saudara yang tercipta sebagai putra roh suci universal yang esa, yang dibentuk dari tanah liat yang sama”. Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *