Stop Pernikahan Anak

Kekerasan terhadap perempuan kerap kali terjadi di dunia, dan salah satu negara yang dengan tingkat kekersan terhadap perempuan adalah negara Indonesia baik kekerasan fisik maupun mental. Hal ini di karenakan banyak masih banyak yang tidak memahami tentang konsep kesetaraan dalam gender. Perempuan dianggap sebagai pelampiasan nafsu, orang yang lemah, tidak bisa mengambil keputusan, dan lain-lain. Menurut data Statistik Indonesia ( BSI ) di tahun 2016 angka kekerasan terhadap perempuan meningkat 28,08 % di bandingkan tahun 2015. Sementara di tahun 2017 angka kekerasan menurun 2,15% dibandingakan tahun lalu, dan rata-rata dari kasus perempuan adalah kebanyakan pernikah dibawah umur atau bisa dikatakan saja pernikahan anak.

Realitas permaslahan perempuan tentang pernikahan anak sudah menjadi sesuatu yang sudah tidak asing ditelinga kita bukan? Baik issue ini kita saksikan di televisi, media cetak, bahkan sering terjadi dilingkungan dimana kita tinggal. Pernikahan anak ini juga menjadi sorotan public, dimana perempuan yang seharusnya pada usia dini harus sekolah dan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, namun harus mengalami kenyataan pahit, mereka dipaksa untuk menikah oleh orang tua karena tuntutan ekonomi, bahkan yang nyaris adalah hamil diluar nikah.

Padahal, kehidupan pasca menikah bukanlah hal yang mudah, karena akan diperhadapkan dengan masalah-masalah rumah tangga, baik masalah bedah pendapat, masalah ekonomi, dan yang menakutkan adalah melahirkan. Coba kita bayangkan saja, ketika anak yang umur 10-15 tahun menikah dan kemudian menjalani proses rumah tangga yang berkepanjangan dan menghadapi permaslahan-permaslahan diatas, bukankah itu akan berpengaruh pada psikologynya, apalagi jikalau Ia melahirkan, pasti pengaruh juga pada kesiapan mental dan fisiknya. Karena umur yang sebegitunya masih labil dan belum terlalu matang dalam pengambilan keputusan dn melahirkan.

Olehnya itu, dari kenyataan yang terjadi disekitar, tentunya ini sudah membuka mata kita, bahwa seharusnya ada proses pendampingan terhadap perempuan, baik pendampingan secara langsung maupun tidak langsung, dan paling penting juga seharusnya harus ada revisi Undang-undang pernikahan anak, yang mengutamakan kesiapan mental (fisik,psycis) untuk menikah di usia yang mumpunih. Sehingga tidak ada lagi KDRT yang di karenakan akibat pernikahan usia dini, angka kematian terhadap ibu dan anak dapat ditanggulangi.

Begitu juga saat perempuan dengan usia yang masih dini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk melakukan hal-hal yang positif dan produktif. Karena jika ini kita bangun secara bersama-sama, yakin dan percaya 10-20 tahun kedepa. Negara Indonesia akan semakin berkembang dan permasalahan-permasalahan perempuan juga akan terselesaikan. Tanpa kita sadari bahwa, perempuan adalah kunci dari pembangunan, mengapa tidak, dari merekalah para generasi-generasi akan lahir dan melanjutkan pembangunan dinegeri ini. Karena perempuan cerdas, akan melahirkan anak yang cerdas pula. Begitu juga sebaliknya! Terima kasih

Artikel tersebut ditulis oleh  Marisa Limun. Perempuan yang akrab disapa Marisa ini merupakan Ketua Bidang Kerjasama OKP, LSM, dan Ormas Keperempuanan KOPRI PB PMII. Perempuan asal Ternate ini sangat menyukai dunia menulis dan bercita-cita untuk bisa menerbitkan sebuah novel karyanya. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *