Perlu Ada Persamaan Persepsi Usia Pernikahan Anak

JAKARTA – Adanya perbedaan usia anak dalam undang perlindungan anak dan perkawinan menjadi polemik tersendiri.Hal tersebut diungkap oleh Ketua Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Puteri (KOPRI) PB PMII, Septi Rahmawati.

”Perlu ada persamaan persepsi, terutama di kalangan masyarakat. Di mana usia pernikahan bisa dilakukan bagi perempuan yang sudah berusia 18 tahun dan 21 tahun bagi laki-laki. Jika ini dilanggar akan berdampak pada psikis dan alat reproduksi,” ungkap Septi, Kamis (5/10/2017).

Untuk anak yang belum menikah akan mengalami gangguan psikis. Seperti tidak siap menjalani pernikahan, hamil dan merawat anak. Selain itu, secara kesehatan bagi anak yang belum siap reproduksinya tidak jarang akan mengalami keguguran.

Dia mengakui olehnya, pernikahan anak akan berimbas pada generasi penerus, baik secara fisik maupun psikis. Di mana anak-anak adalah generasi masa depan yang harus sekolah. Ketika anak-anak dipaksa untuk menikah, hal tersebut akan menggangu perkembangan usianya untuk mendapatkan pengalaman dan ilmu pengetahuan

Di sisi lain, ditengah pesatnya perkembangan teknologi, orangtua harus mengawasi anak menggunakan gadget. Anak-anak telah menggunakan gadget sejak pendidikan usia dini, memudahkan mereka untuk mengetahui banyak hal, diakui atau tidak orang tua semakin sulit untuk mengontrol.

”Hal ini membuat anak berfikir dan bertindak lebih cepat dari biasanya, karena informasi yg dengan cepat mereka terima,” tegasnya.

Dalam konteks ini pendidikan, orangtua dalam keluarga sangat penting untuk pengawalan dalam proses perkembangan kepribadian anak menjadi tanggung jawab orangtua di rumah. Di sekolah guru juga membentuk karakter anak, sesuai dg perkembangan usianya.

Dilanjutkan dengan pendidikan ilmu agama di tempat mengaji atau disibut Diniyah setelah pulang sekolah. Semua komponen akan membentuk karakter anak melalui aktifitas positif di dalamnya. Rumah, sekolah, Diniyah.

”Semoga ini menjadi tugas kita semua, organisasi yang peduli dengan perempuan dan anak serta pemerintah terkait,” pungkasnya.

Pewarta               : Nita Nurdiani Putri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *