Perkawinan Anak Apakah Menjalankan Sunnah, Gengsi atau Mengejar Status?

Berbicara tentang perempuan mungkin tidak ada habisnya. Terutama saya, ketika memulai menulis tentang perempuan, hati saya entah mengapa hati ini greget dan nyes. Apalagi ketika ada perempuan yang menikah muda tapi disia-siakan.

Pernikahan Salma Fina dan Taqi Maliq menjadi persoalan yang cukup mengejutkan. Bahkan, perceraian keduanya menjadi sorotan publik. Walaupun belum punya pengalaman tapi punya feel yang kuat setiap ada perempuan perempuan di bawah umur yang curhat tentang rumah tangga.

Sebagai aktivis perempuan, saya merasa punya tanggung jawab agar para perempuan di sekitar di sekitar kita agar tidak rusak dan tidak dirusak. Memang takdir dan nasib itu sudah ditentukan tapi ada juga takdir yang bisa diubah baik dengan upaya maupun doa. Begitu juga dengan menikah, menikah itu bisa jadi takdir dan bisa karena pilihan.

Jaman sekarang pemerintah sangat mengapresiasi sejumlah anak muda berprestasi dengan beasiswa formal maupun non formal. Jadi, kalau ada yg alasan menikah karena tidak ada biaya kuliah sebenarnya alasan yang kurang pas.

Menikah menjadi menyempurnakan agama apabila pihak perempuan tidak disia-siakan. Namun, jika menikah muda di bawah umur hanya karena gengsi dan mengejar status berarti orang tua tersebut. Seperti tidak memberikan anaknya untuk berkembang. Apalagi jika anak tersebut mendapat kekerasan.

Saya sering menerima curhat beberapa teman, kalau mereka awalnya menikah muda di bawah umur karena mengejar gengsi dan status. Namun, ternyata menikah bagi mereka bukan fantasi yang indah indah malahan mereka merasa susah, marah dan sering gundah.

Tidak sedikit yang menyesal menikah di bawah umur karena mengejar gengsi dan status karena suami mereka tidak bertanggung jawab. Serta anak anak mereka untuk jajan saja susah hal ini yang membuat saya sedih setiap mendengarkan curhatan mereka.

Untuk para perempuan, dari tulisan ini saya ingin berpesan seharusnya untuk bisa menempuh pendidikan yang lebih tinggi, mengembangkan diri dan bermanfaat bagi lingkungan dan diri sendiri. Melihat anak-anak kecil menangis bersama ibunya yang masih muda, seperti menyadarkan kita semua kalau perempuan dan sesama perempuan harus mengerti mereka tidak boleh disia-siakan.

Namun bagi mereka yang nasi telah jadi bubur tetap bisa mengembangkan diri dengan berjualan maupun berusaha menghasilkan dari keringat sendiri. Bagi yang belum menikah jangan galau, dan jangan merusak diri sendiri, semakin kita mengembangkan diri maka semakin baik jodoh di masa depan nanti. Perempuan adalah tiang negara yang harus dijaga kini dan nanti.

Opini ini ditulis oleh Ratih Amalia Lestari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *