Antara Kemerdekaan dan Eksploitasi Perempuan

Antara Kemerdekaan dan Eksploitasi Perempuan

Oleh Nidhomatum MR

Tepat 8 Maret kemarin, menjadi hari penting bagi perempuan sebagai Hari Perempuan Internasional yang berarti hari istimewa bagi perempuan-perempuan di seluruh dunia. Tentunya, ditentukannya hari perempuan tak sekadar penentuan, karena konteks penentuan itu ada.

Dari sejarah yang ada, Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap 8 Maret memiliki sejarah yang tak singkat. Diawali dari perjuangan-perjuangan perempuan sejak 1909 hingga ditetapkannya hari perempuan sedunia tahun 1917. Tak jauh beda dengan saat ini, awalnya para perempuan menuntut dihapuskannya budaya patriarki yang menempatkan perempuan sebagai inferior dan laki-laki superior.

Kala itu, perempuan-perempuan eropa menuntut penghormatan atas hak-hak asasi perempuan dan mendorong diperolehnya hak suara bagi semua perempuan di dunia ketika Pemilihan Umum (Pemilu). Diawali ketika 1909 di Amerika didirikan Partai Sosialis Amerika dan menetapkan Hari Perempuan Nasional Amerika pada 28 Februari.Hari tersebut kemudian terus diperingati perempuan sebagai Hari Perempuan Nasional sampai tahun 1913. Penentuan hari perempuan juga dilakukan kelompok sosialis internasional yang mengadakan pertemuan dan diikuti 100 perempuan dari 17 negara di Copenhagen, Denmark, pada pertemuan tersebut diputuskan perempuan harus memiliki Hari Perempuan Internasional.

Saat itu meski sepakat menentukan pentingnya hari perempuan, namun belum jelas diperingati tanggal berapa, baru ketika menginjak tahun 1911, Hari Perempuan Sedunia diperingati tanggal 19 Maret di Austria, Denmark, Jerman dan Swiss. Kala itu kaum perempuan dan juga laki-lagi turun ke jalan menuntut untuk ikut serta dalam pemilu dan posisi di dalam pemerintahan, hak bekerja, kesempatan memperoleh pelatihan, dan penghapusan diskriminasi dalam pekerjaan.

Kurang dari seminggu sejak peringatan tersebut, pada tanggal 25 Maret terjadi insiden tragis di New York yang menewaskan lebih dari 140 buruh perempuan yang kebanyakan adalah imigran asal Italia dan Yahudi. Kemudian, antara tahun 1913-1914 para perempuan juga turun ke jalan menuntut perdamaian ketika pecah perang dunia 1.

Puncaknya pada 1917, dua juta tentara Rusia terbunuh dalam perang, perempuan Rusia sekali lagi turun kejalan pada hari minggu terakhir di bulan Februari menyerukan “Roti dan Perdamaian”. Para pemimpin politik menentang unjuk rasa tersebut, tetapi para perempuan ini tetap bertahan. Dan sejarah mencatat bahwa empat hari kemudian, Czar (raja) turun tahta dan pemerintahan sementara mengakui hak perempuan untuk ikut serta dalam pemilu. Hari bersejarah itu jatuh pada tanggal 23 Februari di Kalender Julian yang digunakan di Rusia atau tanggal 8 Maret menurut kalender Gregorian atau kalender Masehi. Sejak saat itulah Hari Perempuan Sedunia diperingati perempuan di seluruh dunia..

Terlepas dari konteks yang ada, saat ini perempuan-perempuan tetap memperingati Hari Perempuan Sedunia, baik dengan sekadar memasang profil BBM dan facebook dengan bertuliskan “International Women Day”, maupun turun ke jalan tetap menyerukan kesetaraan gender.

Di sisi lain, di tengah semakin tidak terbatasnya hak perempuan di ruang publik, baik dalam hal politik, pekerjaan dan hak-hak lainnya, perempuan cenderung menjajah dirinya sendiri dengan bangga bekerja. Tak jarang, mereka lupa kewajiban di ranah domestik, yang lebih parah ketika mereka tak sadar bangga ketika dieksploitasi dengan berlenggak-lenggok memamerkan diri untuk menarik konsumen. Karena kenyataannya, SPG-SPG di mall-mall mayoritas perempuan. Jadi, meski sepertinya merdeka hak, penjajahan perempuan semakin marak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *